Penyanyi

Ratna masih diam termenung di bangku belakang mobil van ayahnya. Bibirnya yang tipis membuat garis lurus kecil. Seperti resleting yang ditutup, terkunci rapat. Ia malas bicara lagi dengan ayah dan ibunya yang asyik bercengkrama di bangku depan. Membicarakan masa depan anak satu-satunya. Ibu lebih banyak bicara tentang harapan yang akan didapat dengan menyekolahkan Ratna di sekolah baru tersebut. Ayah, sesekali menanggapi apa yang dikatakan ibu. Ayah selalu konsentrasi jika sedang menjalankan kendaraan.
Ini adalah perjalanan ke sekolah baru buat Ratna. Ayah dan ibu sepakat untuk memindahkan sekolah Ratna karena menganggap lingkungan sekolahnya di Jakarta sudah tidak kondusif bagi perkembangan akhlak anaknya. Apalagi Ibu, yang paling menyayangi anak perempuan satu-satunya ini. Ibu tak ingin Ratna terlalu sering bergaul dengan teman-temannya yang kelihatan bandel-bandel itu. Tidak lelaki tidak perempuan, sama saja, kalau sudah berkumpul di rumah selalu lebih banyak tertawa dari pada belajar kelompok yang dijadikan alasan.
Ayah mendapatkan informasi dari teman kantornya, pak Usman, ada sekolah yang sangat tepat untuk mendidik anak-anak sesuai dengan moralitas agama. Sekolah tersebut adalah sekolah berasrama, sejenis boarding school. Bisa juga disebut pesantren karena semua siswanya tinggal dalam sebuah asrama yang terpisah antara asrama laki-laki dan perempuan. Apalagi dua orang anak pak Usman, kakak-beradik sekolah di sana juga. Yang sulung kelas 3 SMA dan yang bungsu kelas 3 SMP. Dan menurut ayah, ketika menceritakan apa yang didapatnya dari pak Usman kepada Ibu dan Ratna, anak-anak pak Usman itu sangat bagus akhlaknya. Mereka begitu hormat ketika sekali-kalinya Ayah ikut pak Usman membesuk anak-anaknya di Boarding School. “Anak-anak yang sekolah di sana rata-rata menguasai pelajarannya. Bukan hanya itu, rata-rata mereka hafal al-Qur’an.” Ucap ayah bersemangat.
Ratna menolak dipindahkan dari sekolahnya di Jakarta. Belum satu semester ia menjadi siswa kelas 1 di SMA LUHUR BERBUDI, sebuah sekolah elite, masa mau dipindahkan begitu saja ke sekolah pilihan orang tuanya. Bukan sekolah baru yang menggelantungi pikirannya. Tapi grup band sekolah yang telah ia rintis sejak kelas 2 SMP harus ditinggalkan begitu saja. Belum sempat ia menjelaskan kepada teman-temannya di grup band. Ini perpisahan yang menyakitkan yang pernah dialaminya."Dari tadi kamu diam saja, Rat? Kenapa? Kamu masih belum bisa menerima alasan ayah?" Ibu menoleh ke belakang menyapa Ratna yang sedang mengarahkan pandangannya ke jendela. Tatapan Kosong.
Ratna hanya diam. Diambilnya bantal kecil dan merebahkan badannya di bangku tengah itu. Mengambil majalah kesukaannya dan membaca.
"Kamu ini bagaimana, sih. Ditanya ko diam terus?!" Ibu kesal sepertinya.
"Sudahlah, Bu. Tak perlu membahas masalah itu lagi. Kita sudah akan sampai sebentar lagi, nih." Ayah tak mau masalah yang pernah muncul antara ia dan Ratna berulang kembali dalam perjalanan ini.
Tiga hari sebelum perjalanan, Ayah marah sekali pada Ratna yang berkeras untuk tetap sekolah di Jakarta.
